Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mengungkapkan tujuh permasalahan utama yang masih membelit industri baja nasional. Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI, Rabu (4/2).
Permasalahan pertama adalah produksi baja nasional yang masih kalah bersaing dengan produk impor asal China di pasar domestik. Menurut Faisol, terdapat selisih besar antara konsumsi dan produksi baja nasional yang kemudian dipenuhi oleh produk impor.
“Gap antara konsumsi baja dengan produksi nasional cukup besar, dan celah ini diisi oleh produk impor, yang mayoritas berasal dari Tiongkok,” ujarnya.
Masalah kedua, sebagian besar produsen baja nasional masih berfokus pada sektor konstruksi dan infrastruktur. Padahal, sektor lain seperti otomotif, perkapalan, alat berat, hingga peralatan rumah tangga terus berkembang dan membutuhkan pasokan baja dalam negeri.
Permasalahan ketiga berkaitan dengan fasilitas produksi. Faisol menyebut, banyak pabrik baja nasional yang sudah berusia tua, teknologinya tertinggal, dan belum ramah lingkungan. Kondisi ini berdampak pada kualitas produk serta tingginya biaya produksi.
Selanjutnya, industri baja nasional juga kesulitan bersaing dari sisi harga dan kualitas dengan produk baja impor. Selain itu, kontribusi industri baja terhadap investasi baru dinilai belum optimal.
Masalah berikutnya adalah tingginya biaya energi dan logistik di sektor industri baja. Kondisi ini diperparah dengan rendahnya harga baja impor yang semakin menekan daya saing produk dalam negeri.
Langkah Penyelamatan Industri Baja
Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, Kementerian Perindustrian bersama para pemangku kepentingan telah menyiapkan sejumlah langkah strategis. Salah satunya adalah perlindungan industri dalam negeri dari praktik perdagangan tidak adil melalui penerapan kebijakan trade remedies.
Selain itu, pemerintah juga mendorong percepatan adopsi teknologi terkini yang ramah lingkungan, penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) pada produk baja hilir, serta peningkatan investasi di sektor hulu baja kasar (crude steel).
“Kami juga memberikan dukungan hilirisasi baja nasional untuk memenuhi kebutuhan sektor perkapalan, otomotif, militer, hingga konstruksi. Pertumbuhan investasi yang ada menjadi peluang besar bagi industri baja nasional,” kata Faisol.
China Masih Mendominasi Produksi Baja Dunia
Berdasarkan data World Steel Association, total produksi baja kasar dunia pada 2025 mencapai 1.849 juta ton. China masih memimpin dengan kontribusi sebesar 51,9 persen atau sekitar 960,8 juta ton. Posisi kedua ditempati India dengan produksi 164,9 juta ton atau 8,9 persen.
Sementara itu, Indonesia berada di peringkat ke-13 dunia dengan produksi baja kasar mencapai 19 juta ton pada 2025. Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 18,6 juta ton.
Data Organisasi Industri Besi dan Baja Indonesia (IISIA) menunjukkan, konsumsi baja dalam negeri masih didominasi oleh sektor konstruksi dengan porsi mencapai 77,1 persen.
“Kondisi ini menunjukkan industri baja nasional masih sangat bergantung pada pembangunan infrastruktur dan properti sebagai penggerak utama permintaan,” pungkas Faisol.
Sumber Merdeka.com
