Peran Danantara dalam Wacana Merger GOTO–Grab, Masihkah Dibutuhkan?

Peran Danantara dalam Wacana Merger GOTO–Grab, Masihkah Dibutuhkan?

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara alias Danantara Indonesia disebut terlibat dalam upaya penggabungan usaha atau merger antara PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan Grab. Hal itu terungkap lewat pernyataan Sekretaris Negara Prasetyo Hadi di istana negara beberapa waktu lalu. 

Tak hanya itu, Danantara disebut akan terlibat dalam investasi jangka panjang di GoTo Gojek Tokopedia dan Grab setelah merger berhasil. Pengamat BUMN NEXT Indonesia Center, Herry Gunawan, menilai ada dua hal penting yang perlu jadi catatan terkait rencana konsolidasi antara Gojek dan Grab. 

Pertama, ia mengatakan persoalan hukum harus clean and clear, terutama yang masih membayangi Gojek. Apabila Danantara masuk sementara ada kasus hukum yang belum tuntas, konsekuensinya bukan hanya risiko biaya, tetapi juga risiko reputasi yang harus ditanggung Danantara. 

Kedua, rencana merger tersebut harus dipastikan tidak melanggar aturan persaingan usaha. Menurutnya, potensi pelanggaran tetap ada karena penggabungan dua pemain besar itu bisa menciptakan monopoli.

“Kondisi ini berpotensi menimbulkan risiko hukum dan risiko reputasi. Ini kurang sehat bagi Danantara,” ucap Herry kepada Katadata.co.id, Senin (17/11).

Herry juga menjelaskan Danantara sebaiknya tidak tergesa-gesa terlibat dalam aksi korporasi antara Gojek dan Grab. Ia mengingatkan agar tidak muncul kesan adanya intervensi pemerintah, mengingat konsolidasi tersebut merupakan aksi bisnis murni antara pihak swasta. “Menurut saya, kalau Danantara ingin masuk, nanti saja di perusahaan hasil konsolidasi grab dan gojek. Selain sudah clean and clear, risikonya lebih kecil,” ucapnya. 

Herry juga menyebut bahwa jika nantinya Danantara tetap memutuskan untuk masuk, perannya sebaiknya tidak sebagai pengelola operasional. Danantara cukup menjadi pemegang saham yang tidak terlibat dalam manajemen perusahaan. 

Ia mencontohkan model seperti GIC yang masuk ke Nusantara Infrastructure tanpa ikut mengelola operasional. “Pola ini dapat meminimalkan potensi berbagai risiko bagi Danantara,” ungkap Herry.

Keterlibatan Pemerintah

Isu Grab akan mengambil alih Gojek sudah berhembus sejak 2020. Bahkan, beberapa sumber mengatakan pembahasan berlangsung sejak 2018. Pemberitaan bahwa Grab dan GoTo Gojek Tokopedia akan bergabung semakin intensif pada 2024 dan berlanjut pada 2025.

Hingga akhirnya, Menteri Sekretaris Negara alias Mensesneg Prasetyo Hadi membenarkan kabar bahwa Grab ingin membeli saham GoTo Gojek Tokopedia.  “Rencananya begitu,” kata dia di Istana Merdeka, Jakarta, akhir pekan lalu (7/11). 

Ia menyampaikan Danantara terlibat dalam pembicaraan itu. Selain itu, bentuk penggabungan bisa berupa merger maupun akuisisi. “Sedang kami cari skemanya,” ujar dia.

Ia memastikan hubungan Grab dan Gojek tidak akan memonopoli. “Tidak,” kata Prasetyo Hadi.  Sambil berlari kecil, ia mengatakan bahwa pembahasan wacana merger Gojek dan Grab maupun Perpres ojol bertujuan agar bisnis berbagi tumpangan tetap berjalan.

Namun ia tidak mengetahui alasan kedua perusahaan berpotensi terhambatnya bisnisnya, sehingga pembahasan itu dilakukan. Prasetyo hanya menjelaskan Grab dan Gojek menciptakan lapangan kerja.  “Mitra pengemudi (taksi online dan ojol), jumlahnya cukup besar. Dan sekarang kami sadar bahwa ojol merupakan pahlawan ekonomi,” kata Prasetyo. 

Para jurnalis kemudian bertanya, pembahasan wacana merger Gojek dan Grab apakah untuk mencegah pemutusan kemitraan besar-besaran akibat Perpres ojol yang tengah dikaji. Prasetyo tidak menjawab.  Adapun GoTo Gojek Tokopedia memiliki 3,1 juta pengemudi untuk taksi online dan ojol. Sedangkan Grab mempunyai 3,6 juta mitra pengemudi.

Analis Citigroup Ferry Wong mengatakan komentar dan peran Danantara menunjukkan dukungan dari pemerintah Indonesia.  “Namun, kemungkinan kegagalan atau penundaan tetap signifikan,” kata dia merujuk pada pembicaraan merger yang tersendat di masa lalu. 

RUPSLB di Tengah Kabar Merger

Mengutip pada laporan Bloomberg, pemegang saham GoTo termasuk SoftBank dikabarkan telah mengirim memo kepada dewan yang meminta pemecatan CEO Patrick Walujo pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB)berikutnya. 

“Dengan alasan penurunan tajam dalam harga saham,” kata dua sumber lain yang mengetahui masalah tersebut, mengonfirmasi laporan Bloomberg, dikutip dari Financial Times. SoftBank menolak berkomentar terkait kabar ini. 

Seiring dengan itu, Direktur GoTo Gojek Tokopedia R. A. Koesoemohadiani menjelaskan, agenda RUPSLB pada 17 Desember tidak berkaitan dengan isu penggabungan usaha dengan Grab.  “Rencana pelaksanaan RUPSLB tidak terkait dengan rencana tindakan korporasi apapun,” kata Koesoemohadiani dalam keterangannya, dikutip Rabu (12/11). 

Ia menjelaskan penyelenggaraan RUPSLB merupakan bagian dari praktik tata kelola perusahaan yang baik alias good corporate governance, dan tidak perlu menimbulkan kekhawatiran. Koesoemohadiani mengatakan, rincian agenda rapat baru akan diumumkan pada 25 November, setelah melalui proses penelaahan oleh Direksi, Dewan Komisaris, dan komite-komite terkait perseroan. 

Ia juga membantah kabar penempatan escrow fund US$ 300 juta di Singapura terkait antara GOTO dan Grab, serta spekulasi pembelian kembali (buyout) saham GoTo yang dimiliki Telkomsel. Koesoemohadiani menegaskan perusahaan tetap berkomitmen menyampaikan informasi secara transparan dan akurat kepada publik. Sumber Katadata