Jakarta – Di tengah tekanan ekonomi dan meningkatnya biaya hidup, minat masyarakat kelas menengah untuk berwisata tetap terjaga. Keterbatasan anggaran justru mendorong perubahan cara berlibur, dengan memilih destinasi yang lebih dekat, terjangkau, dan efisien.
Direktur NEXT Indonesia Center, Christiantoko, menilai kelompok kelas menengah dan menuju kelas menengah masih menjadi penopang utama pariwisata domestik.
“Kelompok ini adalah tulang punggung pariwisata nasional. Pergerakan dan belanja wisata domestik terbesar masih berasal dari kelas menengah,” ujarnya di Jakarta, Rabu (7/1/2026).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tren perjalanan wisata domestik terus tumbuh. Jumlah perjalanan wisatawan nusantara meningkat dari tahun ke tahun, menandakan minat berwisata tetap kuat meski kondisi ekonomi menantang.
Menurut Christiantoko, kemampuan ekonomi memang memengaruhi peluang berwisata. Namun secara jumlah absolut, aktivitas pariwisata Indonesia sangat bergantung pada kelas menengah dan kelompok yang sedang naik kelas.
“Kalau dilihat secara total, industri pariwisata ini hidup dari kelas menengah. Tanpa mereka, roda pariwisata akan melambat,” jelasnya.
Ia menambahkan, potensi wisata domestik sebenarnya masih sangat besar karena sebagian besar penduduk Indonesia belum rutin bepergian ke luar daerah tempat tinggalnya.
Selain itu, sektor pariwisata dinilai memiliki keunggulan karena tidak membutuhkan investasi besar, namun memberikan dampak ekonomi berantai yang luas, terutama bagi transportasi, penginapan, dan usaha lokal.
Wisata Hemat dan Fokus Dominasi Pulau Jawa
Perubahan pola wisata juga tercermin dari pengeluaran yang lebih efisien. Masyarakat cenderung bepergian lebih sering dengan biaya lebih hemat, menyesuaikan kondisi keuangan rumah tangga.
“Wisatawan kini lebih selektif. Mereka tetap jalan-jalan, tapi mengatur pengeluaran dan memilih destinasi yang dekat,” kata Christiantoko.
BPS mencatat, pergerakan wisata domestik masih didominasi Pulau Jawa, dengan provinsi-provinsi berinfrastruktur baik menjadi tujuan utama. Faktor jarak, biaya transportasi, dan akses yang mudah membuat wilayah ini lebih diminati.
Sebaliknya, daerah di luar Jawa masih menghadapi tantangan biaya dan fasilitas, sehingga perlu dukungan kebijakan yang lebih terintegrasi.
Christiantoko menekankan, pengembangan pariwisata tidak bisa berjalan sendiri, melainkan harus selaras dengan kebijakan ekonomi yang menjaga daya beli masyarakat.
“Jika stabilitas harga dan pendapatan terjaga, pariwisata domestik akan tumbuh lebih sehat, inklusif, dan berkelanjutan,” tutupnya.
